KESIMBANGAN ANTARA DO’A DAN IKHTIAR


Secara logika setiap orang mendambakan suatu keberhasilan. Tentunya kita mengharapkan suatu keberhasilan yang hakiki, baik itu secara UKHROWI maupun DUNIAWI. Keberhasilan tergantung setiap individu dalam menggapai, meraihnya. Proses menggapai suatu keberhasilan didasarkan pada faktor internal juga pada factor eksternal.Berusaha meraih sukses bisa dilakukan melalui faktor eksternal, dalam bentuk  bisa berupa ; belajar, mencoba, bereksperimen, berikhtiar dan lain – lain. Tentunya banyak orang mafhum akan proses ini, dan pastinya banyak orang telah melakukannya.Yang pada akhirnya nanti individu tersebut bisa dikatakan mahir, pintar, cerdas, atau apalah sebutannya. Di dalam mengapai kesuksesan tidaklah selalu dilalui dengan lanca-lancar saja. Hambatan, kegagalan pastilah pernah dialami setiap orang untuk mengapai kesuksesan. Itulah merupakan proses dari kehidupan itu sendiri. Di balik itu semua, ada sebuah kekuatan yang sangat dan lebih besar dalam mencapai keberhasilan. Keberhasilan tidak hanya dipandang dengan mempunyai harta yang banyak, rumah besar, gelar yang panjang. Akan tetapi kekuatan internal itulah pada hakekatnya yang berperan besar dalam menggapai keberhasilan. Keyakinan, keimanan.

Ketika manusia lahir ke dunia ini semuanya sama lemah tidak berdaya dan hanya berbekal harapan hidup. Kemudian jalan hidup pun kita jalani dengan kompetisi menuju satu maksud dan tujuan yaitu meraih kebahagiaan, sehingga satu sama lain mempunyai pengalaman yang berbeda, status sosial yang tidak sama serta tingkat kehidupan yang beragam.
Sering kita saksikan suasana kehidupan yang sangat mencolok, namun hal ini jangan dijadikan kecemburuan sosial yang menimbulkan pertenta-ngan kelas di masyarakat. Tapi juga jangan dibiarkan menjadi sebuah kewajaran yang tidak teratasi. Status hidup sangat ditentukan oleh besar tidaknya usaha manusia ke arah perubahan yang lebih baik, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sebuah kaum sehingga mereka merubah keadaan mereka sendiri.”  Namun seberapa besar upaya manusia merubahnya, tidak bisa lepas dari keputusan yang Maha Kuasa. Karenanya, ikh-tiar manusia tidak cukup dengan ikhtiar badani saja, tapi harus dibarengi dengan permohonan ke-kuatan mencapai apa yang diharapkan. Jadi, ikh-tiar dalam kasab dan ikhtiar dalam do’a mutlak harus dilakukan oleh seseorang yang ingin mengu-bah keadaan hidupnya.

Bahkan dalam sebuah Hadits Qudsi dijelaskan peran ibadah (baca: do’a) sangat besar dalam kehidupan seorang manusia. Firman Allah: “Wahai anak cucu Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku pasti hatimu akan kucurahkan ketenteraman dan lebar dada serta aku akan menutupi keadaanmu. Tapi jika kamu tidak beribadah ke-pada-Ku, Aku akan bebankan kepadamu kesibukan-kesibukan dan tidak pernah Kututupi kebutuhanmu.” Manusia kerap mengalami ketegangan dalam berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat sekelilingnya, baik secara langsung atau akibat lain yang membebani langkahnya. Karena itu Allah SWT dengan kemurahan-Nya membekali manusia dengan akal dan bimbingan wahyu yang secara lengkap diberikan contoh figur Rasulullah SAW.

Tapi setelah mengalami perjalanan hidupnya, banyak manusia yang tergoda oleh sampah duniawi dan terjerumus dalam perangkap Iblis la’natullah, sehingga menyimpang dari tujuan pokok yaitu beribadah kepada-Nya dan menjadi manusia sesat yang kehilangan pegangan. Sebab itu hubungan dengan Allah perlu diperkuat agar mendapat kemantapan dalam jiwanya. Manusia disuruh agar senatiasa berdo’a dan bermunajat kepada-Nya dengan memohon petunjuk-Nya setiap saat.

Pada suatu hari Rasulullah SAW masuk ke masjid, dilihatnya seorang shahabat duduk tepekur berdzikir, terlihat khusyu’ dengan mata dibasahi air mata kebimbangan. Setelah didekati, ternyata dia adalah Abi Umamah Al-Bahily salah seorang shahabat yang dikenal tegar memperjuangkan dan membela Islam. Rasul pun bertanya: “Apa gera-ngan yang menyebabkan kedukaan ini ?” Diapun berkisah: ”Wahai Rasulullah, aku ini seorang yang terlilit hutang teramat banyak sehingga aku tidak mampu melunasinya.” Rasulullah tertegun, kemudian bersabda; “Maukah kau kuajarkan sebuah do’a yang bisa membuat hatimu tenteram dan menghilangkan kegelisahanmu ?” Abu Umamah mengangguk, maka Rasulullah membacakan do’anya: “Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan waa’udzu bika minal ‘ajzi walkasali wa a’udzubika minal bukhli wal jubni wa a’udzu bika min ghalabatiddain wa qahririjal.” (Ya Allah, aku ber-lindung kepada-Mu dari rundungan sedih dan duka, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan penakut, aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang dan penindasan orang). Ternyata do’a pendek itu mampu membangkitkan gairah hidup Abu Umamah yang hampir terperosok dalam jurang keputusasaan dan rasa stress yang kronis. Ia pun bangkit dari duduknya dan menyingsingkan lengan bajunya untuk meng-aplikasikan do’a yang telah dia terima dari seorang utusan yang agung. Dia memahami betul makna dan maksud do’a yang sarat hikmah dan nasehat yang tinggi nilainya. Akhirnya dia menjadi seorang shahabat yang selalu optimis menghadapi kehidupan dan tidak pesimis atau putus asa dengan keadaan yang telah menimpanya, sehingga ia termasuk salah seorang yang disebutkan dalam Al-Quran “Yaitu mereka yang berjihad di jalan Kami, pasti Kami memberi petunjuk kepada mereka dan sesungguhnya Allah bersama orang yang berbuat baik.”

Al-hammi dalam do’a di atas adalah rasa khawatir dan resah menghadapi kejadian yang akan menimpa sebelum terjadi. Pepatah mengatakan “kalah sebelum bertanding”, akibatnya selalu meng-ganggu pikiran dan menjadi beban hidup. Seharusnya seorang mu’min tidak gelisah menghadapi masa depan dan selalu berkeyakinan Al-ghadd biyadillah (masa depan di tangan Allah), sehingga tetap optimis menghadapi masa depan dengan usaha semaksimal mungkin.

Al-Hazan adalah kebingungan atas apa yang telah terjadi, terus larut dalam kesedihan yang ber-kepanjangan. Akibatnya jalan hidup tertutup dan hidup hanya berandai-andai dalam lamunan ham-pa. Sebuah sya’ir Arab menyebutkan:”Yang lalu biarlahlah berlalu, masa depan belumlah tahu, yang ada hanyalah sekarang yang sedang kau jalani.”

Al-’Ajzi ialah perasaan lemah tidak berdaya. Melihat orang lain maju tidak jadi pemicu gairah kerja, tetapi menimbulkan rasa rendah diri dan ketidakmampuan. Padahal setiap manusia diberi kelebihan dari yang lainnya.

Al-Kasal artinya tidak punya kemauan atau sifat malas yang tanpa alasan. Rasa malas ini lahir ketika melihat pekerjaan yang dia pandang tidak sanggup melaksanakannya. Dalam hal ini diperlukan keseimbangan kerja sesuai dengan porsi yang dibutuhkan, sehingga semangat kerja tetap stabil dan bergairah selalu.

Al-Bukhli berarti kikir, di mana seseorang telah meraih apa yang dicita-citakan, dia lupa daratan dan tidak ingat kejadian asalnya serta melupakan jasa orang kecil yang membantunya mencapai kesuksesan.

Al-Jubn adalah sifat rakus dan pengecut akibat rasa takut hilangnya harta atau jabatan yang ada dalam genggamannya. Berat rasanya dia tinggalkan kekayaan yang dia raih. Akibatnya menjadi seorang manusia yang diliputi rasa takut dan muncul sifat sombong dengan hasil usahanya tersebut.

Ghalabatu dain ialah terlilit hutang seperti yang terjadi pada Abu Umamah. Dengan menghindari diri dan berlindung kepada-Nya dari sifat Al-Hamm, Al-Hujn, Al-’Ajzi, Al-Kasal, Al-Bukhl dan Al-Jubn akan mudahlah dia menyelesaikan masa-lahnya serta bisa melunasi hutang-hutangnya.

Yang terakhir ialah Qahr ar-Rijal yaitu mohon perlindungan dari penindasan manusia disebabkan menurunnya martabat karena berhutang, menge-mis dan lain-lain. Dengan permohonan ini, ia akan menjadi manusia yang terhormat di hadapan Allah dan sesama manusia.

Demikianlah, apabila manusia dapat menjauhi sifat-sifat di atas dan mengamalkannya baik dalam do’a maupun ikhtiar, pastilah akan tercapai kebahagiaan yang diharapkan serta hilanglah rasa tertekan atau stress yang menjadi penyakit masyarakat modern sekarang ini dan menjadi manusia yang selalu optimis menghadapi masa depan. Insyaallah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s